was successfully added to your cart.

Cart

MusicMusik

Mengapa Anak-anak Sulit Diajak Latihan?

By May 16, 2020 No Comments

Pada dasarnya semua anak membenci apa yang disebut  dengan latihan. Musik sebagai salah satu bentuk ketrampilan, memang membutuhkan latihan, latihan dan latihan. Hanya dengan melalui latihan dengan rajinlah seseorang bisa menguasai sebuah ketrampilan. Demikian halnya dengan musik.

Dalam satu hal, bermain musik tidak ubahnya dengan seorang atlet yang harus selalu berlatih setiap hari untuk meningkatkan performanya. Maka tidak heran jika latihan menjadi menu sehari-hari seorang atlet, bahkan menjadi kebutuhan pokok. Masalahnya barangkali adalah bagaimana agar anak-anak bisa menjadikan latihan sebagai menu sehari-hari mereka, sebagaimana halnya dengan kebutuhan kita akan makan, minum, mandi, sesuatu yang otomatis dikerjakan dan tidak perlu diingatkan berkali-kali agar mereka mengerjakannya.

Lebih lanjut diakuinya, memang tidak mudah mengajak anak-anak untuk berlatih setiap harinya karena banyak variabel yang mempengaruhinya. Meskipun demikian ada beberapa hal yang perlu diketahui para orangtua sebelum mereka meminta buah hatinya berlatih.

Kenali Anak Anda

Langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah kenali dengan baik buah hati Anda. Orangtua yang baik akan mengetahui dengan baik buah hatinya, dalam pandangan psikologi. Misalnya, bagaimana watak dan sifatnya, kebiasaannya, kesukaannya, kelemahannya, dan kepribadiannya secara umum.

Dengan mengenali buah hati Anda dengan biak dan secara kompehersif, orangtua akan dapat menemukan sebuah formula dengan menggunakan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan karakter si anak.

Dari hasil pengamatan, anak-anak usia 6 tahun ke bawah, mereka memiliki ketergantungan yang teramat besar terhadap orang tuanya. Daya pikir, penalaran, dan kesadarannya belum muncul. Anak-anak di usia ini biasanya mudah diarahkan, tetapi belum memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap sesuatu.

Anak-anak pada periode usia ini biasanya tidak terlalu sulit kalau diminta melakukan apa saja oleh orangtuanya. In ikeunggulan mereka!tetapi mereka juga memiliki kelemahan, yaitu mereka sulit berkonsentrasi terutama bila terlalu lama. Jika orang tua meminta agar mereka berkonsentrasi untuk latihan, maka akan sia-sia. Karena, mereka cenderung tidak bisa tenang, cenderung bergerak-gerak, banyak bicara, dan susah berkonsentrasi. Dalam sebuah penelitian memang disebutkan, daya konsentrasi anak-anak seusia ini paling lama adalah 5 menit.

Anak-anak pada rentang usia 7-12 tahun, biasanya merupakan periode paling mengesalkan bagi para orang tua. Anak-anak di rentang usia inilah yang biasanya paling sulit bila diajak mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi, apalagi bila ia harus mengerjakannya secara berulang-ulang. Seperti latihan memainkan instrument musiknya.

Namun dalam rentang usia ini, seorang anak akan mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik fisik maupun mentalnya. Begitu banyak hal-hal baru yang harus ditangkap panca inra mereka, selain itu mereka juga menemukan banyak pengalaman-pengalaman baru. Tingkat kesadarannya juga mulai muncul. Ia mulai belajar bersikap, misalnya mulai muncul penolakan jika ia merasa tidak menyukasi sesuatu, atau sebaliknya bila ia merasakan kegemaran terhadap sesuatu.

Anak-anak pada rentang usia 7-12 tahun adalah fase kritis, dimana secara psikis mereka menerima begitu banyak informasi. Mereka merasa tidak lagi perlu bergantung pada orangtua. Belajar punya sikap, namun kesadaran dan pemahaman mereka masih belum matang. Betapapun, mereka masih membutuhkan orangtuanya. Daya konsentrasi anak-anak di rentang usia 7-12 tahun paling lama adalah 10 menit.

Sementara itu anak-anak yang berada dalam periode usia di atasnya, yakni 13-17 tahun merupakan periode pubertas. Dimana secara psikologi merupakan masa anak mencari identitas dirinya. Kesadaran dan pemahamannya terhadap sesuatu mulai berkembang. Ia mulai bisa membedakan, menentukan, dan menganalisa. Egonya berkembang begitu cepat, sehingga kadang-kadang mereka cenderung bersikap berlawanan dengan apa yang dikehendaki orangtuanya.

Dalam periode ini, biasanya muncul istilah ‘anak sulit diatur’ yang sebenarnya adalah bentuk kegagalan orangtua mengenali anak-anaknya. Istilah itu sebenarnya tidak tepat, karena yang terjadi bukannya anak-anak yang sulit diatur, melainkan orangtua yang tidak mampu memahami buah ahti.

Di usia pancaroba ini, orangtua memang harus ekstra ketat dalam memberi pengawasan, tetapi tetap disertai dengan kasih sayang. Jadi yang mereka butuhkan adalah ‘ketegasan’ bukan ‘kekerasan’. Sayangnya, para orangtua cenderung untuk bertindak ‘keras’ daripada ‘tegas’. Ada perbedaan mendasar antara ‘tegas’ dan ‘keras’. Keras berarti meniadakan potensi kewibawaan dan bimbingan, sementara tegas adalah aktualisasi kewibawaan dan tanggung jawab.

Biasanya, pada periode ini , seorang anak mulai memiliki rasa tanggung jawab. Pemahaman dan kesadaranya mulai menemukan bentuk. Ada kemungkinan besar mereka mulai memiliki kesadaran untuk berlatih sendiri tanpa harus diperintah orang tua lagi, sebagai bentuk munculnya pemahaman dan tanggung jawab. Daya konsentrasi anak-anak di usia ini rata-rata 20 menit.

Pada usia 18 tahun ke atas, anak-anak sudah memasuki peralihan dari dunia remaja ke fase dewasa. Biasanya pemahaman dan kesadaran mereka sudah menemukan bentuknya. Mereka sudah memiliki kemandirian dan ketergantunagnnya pada orang tua semakin banyak berkurang. Anak-anak di usia ini bukan lagi seorang anak-anak dalam pandangan orang tua, melainkan teman. Demikian juga dalam pandanga anak, mereka memandang orangtua lebih sebagai sosok teman. Karena itu komunikasi menjadi sangat penting dalam hal ini. Dan bila dalam usia ini orangtua masih berlaku keras terhadap buah hatinya, itu adalah sebuah kesalahan karena merekaakan cenderung melawan dan memberontak.

Pada umumnya daya konsentrasi orang dewasa tidak lebih dari 30 menit. Setelah itu biasanya mereka mengalihkan pada hal-hal lainnya, untuk kemudian menemukan konsentrasinya kembali. Namun demikian, kondisi seperti ini tidak selalu sama pada semua kasus. Karena ada anak-anak di periode usia ini yang memiliki daya konsentrasi sangat tinggi yang bisa membuat mereka betah berlatih berjam-jam. Namun ini hanya beberapa pengecualian.

Temukan Cara Anak

Setelah orangtua mengetahui dan mengenali dengan baik buah hatinya, mereka sebaiknya segera menemukan cara-cara pendekatan ‘yang sesuai menurut si anak’ dan bukan ‘yang sesuai menurut orang tua’. Maksudnya adalah, orangtua dituntut untuk jeli dan juga hai-hati sekaligus bijak dalam melakukan pendekatan untuk mengajak anak-anak berlatih. Hindari kecenderungan pemaksaan. Mengapa? Karena memaksa seringkali berarti sesuatu yang selalu harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh seseorang. Mulailah Anda sebagai orangtua mengubah terminologi itu menjadi sesuatu yang mengikuti anak.

Salah satu pendekatan terbaik yang bisa dilakukan dalam hal ini adalah dengan masuk ke dalam dunia buah hati Anda. Kemudian arahkan, tuntun dan bimbinglah mereka dengan menggunakan bahasa mereka, dan dengan cara mereka. Ini bukan sesuatu yang mudah,karena tidak semua orangtua memiliki kualitas kesabaran dan ketelatenan yang sama. Tetapi bila Anda telah menemukan sesuatu yang sesuai dengan dunia buah ahti Anda, maka Anda akan mudah mengarahkan dan menuntunnya sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Jangan lupa, sehebat apapun keunggulan buah hati Anda, dan sehebat apapun buah hati Anda, mereka tetaplah makhluk-makhluk lemah yang masih membutuhkan bantuan kita sebagai orang dewasa.

Dalam hal mengajak anak-anak berlatih musik misalnya, orang tua tidak perlu harus berperan sebagai layaknya guru mereka di kelas. Yang dibutuhkan mereka adalah, mendorong anak-anak untuk melatih apa yang sudah diberikan gurunya ketika di dalam kelas. Memang, oleh sang guru, tetapi jangan hanya berhenti sampai di situ. Anak-anak harus didorong untuk menyukai sesuatu yang mungkin untuk menyukainya mereka harus melakukannya berulang-ulang dan menjemukan. Banyak hal yang bisa dilakukan orang tua, dan itu sangat tergantung pada diri mereka sendiri.

Perlihatkan diri Anda

Ada kecenderungan alamiah bahwa anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka akan meniru, dan pada tingkat pemahaman yang lebih maju, mereka akan bisa menilai sesuatu yang dilihat dan ditiru, bahkan apa yang didengar dan dicium melalui indra penciumannya. Sebagai orangtua, perlihatkan diri Anda sebaik mungkin di hadapan anak-anak. Meskipun dalam dalam suasana atau kondisi hati Anda rajin berlatih musik, maka perlihatkan keterlibatan Anda dalam setiap sesi latihan. Tunjukkan komitmen dan dukungan Anda bukan hanya sebatas pada tataran materi saja, tetapi juga dorongan moral. Perlihatkan kesungguan dan pengorbanan  Anda.

 

Sumber : Majalah Staccato No.133/Th.XI/Desember 2013

Leave a Reply