was successfully added to your cart.

Cart

MusicMusik

Belajar untuk Kebaikan, Atau untuk Ujian? (2)

By May 26, 2020 No Comments

SUZUKI FORUM

Sebuah lagu mengalun merdu di ruang ujian. Seorang gadis kecil duduk di piano memainkan beberapa lagu, dari satu lagu ke lagu berikutnya. Tiba-tiba musik berhenti. Terdengar sepenggal melodi diulang …. sekali, sua kali, tiga kali. Senyap. Tak lama kemudian gadis kecil itu keluar ruang ujian dengan berurai air mata. Orangtuanya yang menunggu di luar langsung mencecarnya dengan beragam omelan yang menyakitkan hatinya. Dia telah berusaha yang terbaik. Berlatih berbulan-bulan, menyempurnakan setiap bagian lagu. Namun, selalu saja seperti ini : tiba-tiba dia kehilangan konsentrasi dan membuat kesalahan.

Dia lalu menerima hasil belajaranya. Cukup bagus sebenarnya. Secara umum, juri memuji musikalitasnya. Namun, orangtuanya tidak puas dan terus menyalahkan kelalaiannya. Ini memang bukan kali pertama. Beberapa kali ujian hasilnya selalu seperti ini. Setiap kali dia erusaha lebih keras dan lebih baik lagi. Namun, beban itu terasa mengganjal di hatinya. Semakin dia berhati-hati, semakin dia berbuat salah. Selama itu pula orangtuanya selalu mencerca, menuntut dia untuk bisa berubah, atau lebih baik dia berhenti bermain musik. Akhirnya, dia memilih jalan yang sangat dramatis, dia telah bertekad : Aku akan berhenti bermain musik, toh aku tidak berbakat di bidang ini, aku tidak akan bisa mencapai hasil yang maksimal.

 

Sejak lahir, setiap anak menghadapi suatu proses pembelajaran. Belajar mendengar, belajar berbicara, belajar berjalan, dan lain-lain. Lalu, tibalah masa sekolah : anak mulai belajar sains, matematika, ilmu sosial, dan sebagainya.

Ada satu pemikiran yang perlu kita renungkan : sebelum anak masuk dunia yang umum kita sebut “sekolah”, anak belajar tanpa beban, tanpa suatu tuntutan. Satu anak mulai berbicara di usia 18 bulan, yang lain membutuhkan waktu 3 tahun. Yang satu mulai berjalan ketika berumur 10 bulan, yang lain 2 tahun.

Namun, tak ada orangtua para balita yang berniat mengikutsertakan anaknya di “ujian berbicara”, “ujian berjalan” “ujian memegang sendok”. Tiap orangtua dengan ikhlas dan sabar menunggu saat anak dapat menguasai suatu keterampilan baru. Mereka menyadari sepenuhnya, tiap anak mempunyai masa yang berbeda-beda. Tidak ada orangtua yang memarahi bayi berumur 1 tahun karena sang bayi tidak bisa berjalan. Atau, ibu yang menyetrap anaknya yang berusia 2 tahun karena berbicara cedal.

Ironisnya, ketika anak memasuki dunia “sekolah”, beberapa orangtua menjadi sosok penuntut. Tanpa sadar, orangtua kerap menuntut anaknya untuk menjadi ‘ang Terbaik’ dalam bahnyak hal sekaligus. Nilai kerap menjadi satu-saunya tujuan tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran itu sendiri. Segala cara dilakukan agar anak mendapat nilai terbaik, dengan memberi iming-iming, ancaman, hadiah, dan sebagainya.

Sayangnya, cara ini seringkali justru tidak mendidik. Bagi anak, proses ini terasa begitu menyiksa dan membebani. Sebagian anak yang takut mengecewakan orangtua, akhirnya menghalalkan segala cara demi mendapat ‘Nilai Baik’. Jika begini, dimanakah unsur pendidikan yang sebenarnya justru lebih penting untuk perkembangan psikologis anak?
Hal ini terjadi pula dalam proses anak belajar musik. Banyak orangtua menginginkan anaknya agar dapat menguasai materi secara cepat, sehingga proses anak belajar musik terjadi secara ‘instan’. Banyak anak ‘dipaksa’ mengikuti berbagai lomba dan ujian yang tuntutannya terkadang melebihi kemampuan anak itu sendiri. Tanpa sadar, hasil lomba dan ujian itu menjadi lebih penting daripda proses belajar musik itu sendiri. Alih-alih menikmati musik dan proses belajarnya, anak hanya melihat musik sebagai beban tambahan. Jika sudah begini, orangtua dengan mudah memberi label anak “tidak berbakat”. Padahal, bukan anaknya tidak mampu, hanya prosesnya yang kurang lengkap.

Pernahkah orangtua merenungkan : proses anak belajar musik (dan belajar bidang apapun juga) sebenarnya sama dengan seorang bayi belajar berbicara dan belajar berjalan. Semua anak punya potensi belajar apapun juga. Dan semua anak bisa mencapai suatu tingkat keahlian yang diharapkan. Hanya, waktu tiap anak berbeda-beda.

Ada anak yang dengan mudah cepat menangkap pelajaran, ada yang butuh waktu lebih lama. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak. Orangtua dan lingkungannya memegang peranan penting. Jika faktor ‘nilai’ sejenak diabaikan, dan faktor ‘penguasaan’ diutamakan, kiranya anak bisa menemukan minatnya dalam bidang musik.

Yakinlah, setiap anak pasti bisa belajar musik dan pasti bisa bermain dengan baik. Beri lingkungan yang baik, dukungan yang terbaik, dan nantikan saatnya.

 

Sumber majalah Staccato No.126/Th.X/April 2013

Leave a Reply